Rabu, 22 September 2010

BIDAT (Ajaran Sesat)

0 komentar
I. Pengertian Bidat


Apa yang dimaksud dengan bidat? Bidat (Bhs Inggris: Heresy, Yunani: hairesis) muncul 9 kali dalam Perjanjian Baru. Menurut kamus Yunani karya monumental W.F Arndt dan F.W. Gingrich yg diterjemahkan oleh W. Bawer's, semula kata ini bersifat netral, tanpa konotasi negatif, yaitu dimengerti sebagai kelompok/sekte, opini, dogma (BAG 23-24).

Dengan demikian, dalam Perjanjian Baru (PB) dikenal sekte orang Saduki (Kis. 5:17) dan sekte orang Farisi (Kis. 15: 5; 26:5) yang dibentuk dari kelompok Judaisme. Sekte orang Saduki adalah kelompok yang menolak hal-hal yang bersifat supernatural, seperti ajaran tentang kebangkitan, hidup kekal, juga adanya malaikat. Sedangkan sekte orang Farisi adalah mereka yang percaya kepada hal-hal tersebut di atas, dan digambarkan di dalam PB sebagai kelompok yang sangat memegang tradisi nenek moyang, mengerti dan memelihara Kitab Taurat secara kaku. Karena itu, kelompok ini sering bertentangan dengan Tuhan Yesus, serta memusuhiNya.

Perlu diperhatikan bahwa kata yang sama, yaitu sekte, juga digunakan oleh non Kristen terhadap kekristenan. Sebagai contoh, kita dapat membaca tuduhan yang diberikan kepada R. Paulus: "Telah nyata kepada kami bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani (Kis. 24: 5, lihat juga 14; 28: 22).

Jadi jika pada mulanya pengertian "hairesis" adalah aliran, opini atau dogma, kemudian aliran atau sekte ini diindikasi sebagai aliran yang menyesatkan( I Eph 6:2; I Tr 6:1; Epil Mosq 1, hal ini bisa juga dibaca dalam tulisan Justin). Dalam tulisan rasul Paulus, aliran ini disebut menimbulkan perpecahan yang perlu diwaspadai. Karena itu, bidat dapat juga dimengerti sebagai kelompok dalam gereja yang memecahkan diri karena alasan-alasan tertentu (band. 1Kor.11: 19; Gal.5: 20). Dalam Tit.3: 10 kata ini digunakan untuk orang tertentu. Rasul Paulus menulis: "Seorang bidat yang sudah satu dua kali kau nasehati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri" (Tit.3: 10-11).



II. Bidat dalam PB dan sesudah zaman PB


Dalam tulisan ini, kita mendefenisikan bidat sebagai sekte, kelompok atau gerakan dengan ajaran yang menyimpang dari ajaran utama, sebagaimana diajarkan oleh Alkitab dan tradisi Gereja mula-mula. Yang kita maksud dengan ajaran utama di sini adalah seperti ajaran tentang Allah, Kristus, Roh Kudus serta Keselamatan. Tentu saja, dengan defenisi ini, sebelum kita membahas terlalu jauh, kita perlu mengingat penegasan ahli sejarah Gereja, Williston Walker:

"Not every deviation from tradition, however, could be called heretical… practically speaking, therefore, the identification of what counted as heresy was a matter of papal decree". (Walker hal. 300).

Dalam PB, penggunaan kata bidat dalam arti penyimpangan terhadap ajaran sebagaimana kita sebut di atas, pertama kali dapat ditemukan dalam 2Pet.2: 1, di mana di sini rasul Petrus menegaskan adanya guru-guru palsu. Petrus menulis: "Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka sendiri" (2Pet.2: 1).

Sebernarnya, kita melihat bahwa ada dua kelompok bidat yang paling menonjol dalam PB. Pertama, kelompok Gnostik Yahudi (Kol.2: 8-23) dan Dosetisme (1Yoh.4: 2,3 dan 2 Yoh.7). Kita sebut Gnostik Yahudi, karena sekalipun faham Gnostik baru muncul pada abad kedua, namun benih ajaran tersebut telah ditemukan pada masa PB. Ajaran Gnostik sulit dirumuskan secara tepat. Hal ini disebabkan adanya berbagai variasi dan keragaman pengajaran mereka. Yang jelas, mereka tidak menerima otoritas Alkitab Perjanjian Lama (PL), tidak mengakui bahwa keselamatan adalah melalui Kristus. Umumnya mereka menolak ajaran tentang Kristus yang datang menjadi manusia serta menderita di kayu salib. Bagi kelompok ini, keselamatan adalah melalui kemampuan untuk mencapai satu tingkat pengetahuan tertentu yang disebut the secret gnosis. Sedangkan ajaran dosetisme adalah pengajaran yang menolak kesejatian tubuh Kristus. Bagi kelompok ini, tubuh Kristus hanya bersifat maya. Kata "dokew" dalam bahasa Yunani berarti kelihatannya (it seems), jadi kelihatannya Kristus memiliki tubuh manusia, padahal sebenarnya tidak demikian. Pengajaran ini tentu dipengaruhi oleh pemahaman bahwa semua yang bersifat materi (termasuk tubuh) adalah hina serta penyebab dosa. Tubuh dianggap penjara jiwa. Karena itu, manusia harus melepaskan diri dari tubuh jasmaninya.

Alkitab menegaskan bahwa pemahaman tersebut tidak benar. Karena itulah, rasul-rasul, khususnya Paulus dan Yohanes banyak melawan ajaran tersebut dalam surat-suratnya.

Lalu apa yang terjadi sesudah zaman rasul-rasul? Kita juga melihat munculnya bidat-bidat baru. Itulah sebabnya, sebenarnya dapat dikatakan bahwa sejarah Gereja adalah juga sejarah bidat-bidat. Karena itu, tema di atas sesungguhnya merupakan sesuatu hal yg sangat sulit untuk dibahas, karena itu sering dihindari. Kita dapat maklum, karena kalau kita membaca kitab Sejarah Gereja yg begitu tebal yang ditulis oleh Williston Walker, atau yang ditulis berjilid-jilid serta tebal-tebal (hampir selusin) oleh Philip Schaff, kita akan melihat bahwa kehadiran bidat dalam sejarah Gereja begitu rumit. Kita tidak mungkin mendiskusikan apa yang terjadi pada Montanisme dan Gnostiksisme di abad kedua serta the Cathars,Waldensians, Skolastiksisme di abad pertengahan hingga liberalisme di abad 19.


Karena itu, hanya beberapa dari bidat tsb kita sebutkan di bawah ini.

Pertama, bidat di sekitar ajaran Kristus (Kristologi). Kita memassukkan ke dalam kelompok ini aliran Apollinarisme yang mengajarkan bahwa Kristus tidak memiliki roh manusia, tetapi Logos menggantikannya.

Selanjutnya Eutychianisme yang mengajarkan bahwa Yesus tidak memiliki tubuh manusia, karena kemanusiaan Yesus hilang ditelan Logos. Sedangkan Monothelistime mengajarkan bahwa Kristus tidak memiliki kemauan insani, tetapi hanya kemauan Allah.

Kedua, kita juga melihat adanya bidat di sekitar ajaran Tritunggal.
Salah satu bidat yang cukup banyak mempengaruhi ajaran Tritunggal jemaat di Indonesia adalah Sabellianisme atau Modalisme. Kelompok ini menerima ajaran Tritunggal tetapi tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab.

Kelompok ini mengajarkan bahwa yang dimaksud dengan ajaran Tritunggal adalah Allah yang menyatakan diri dalam tiga cara, yaitu Allah Bapa yang berubah menjadi Allah Anak, serta Allah Anak yang berubah menjadi Allah Roh. Pengertian seperti inilah yang biasa digambarkan de gan air-es-uap.
Jadi, ajaran ini menyangkali adanya tiga oknum yang berbeda dalam Allah Tritunggal, yang dapat dibedakan sekalipun tidak dapat dipisahkan. Aliran lain yang juga termasuk di sini adalah Monarchianisme atau adoptianisme, Arianisme serta Macedonianisme. Monarchianisme menolak Tritunggal karena mereka ini mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah sejati, tetapi Yesus menjadi Kristus pada saat Yesus dibaptis oleh Yohanes, dan kemudian Allah mengadopsi Yesus setelah kematianNya.

Demikian juga dengan Arianisme, menolak ajaran Tritunggal karena kelompok ini berpendapat bahwa Yesus bukan Allah melainkan ciptaan Allah yang pertama. Sedangkan Macedonianisme menolak ajaranAllah Tritunggal dengan alasan bahwa Roh Kudus merupakan ciptaan Allah juga.

Selanjutnya kita juga mengenal bidat di sekitar kanon Alkitab. Hal ini telah dimulai oleh Marcion di mana dia menolak seluruh kitab yang berbau Yahudi, seperti Injil Matius. Sebenarnya kita dapat menyaksikan bahwa dalam sepanjang sejarah Gereja, baik di abad permulaan hingga saat ini, kita terus melihat adanya kelompok yang menolak otoritas Alkitab, termasuk di sini adalah Neo Protestanisme serta liberalisme yang menolak pengilhaman dan Otoritas Alkitab.



III. Sikap Terhadap Bidat


Seringkali anggota jemaat bingung dan ragu dalam menyikapi hadirnya bidat atau aliran yang mengarah kepada bidat di Indonesia. Bahkan ada semacam pengertian bahwa setiap kelompok adalah benar, karena itu adalah salah dan berdosa bila meragukan atau menentang aliran tersebut.

Padahal, kita dapat menyaksikan bahwa rasul-rasul seperti Paulus dan Yohanes memberikan sikap yang sangat jelas dan tegas terhadap segala penyelewengan dan penyimpangan ajaran yang benar. Itulah sebabnya kita dapat membaca tulisan mereka serta tulisan dari Bapak2 Gereja cukup banyak berisi peringatan terhadap ajaran2 bidat ini. Sebagai contoh adalah Ignatius yang menganggap pengajar2 sesat ini sebagai pemabuk (Trall.6: 1-2) dan beruang ganas (Eph.7:1). Sedangkan Ireneus menulis "Against Heresies" untuk melawan berbagai pengajaran Gnostik di abad kedua. Karena itu, Ireneus memperingatkan orang2 Kristen untuk menghindari setiap pengajaran yang tidak murni dan menyesatkan.

Selanjutnya, Clement dari Alexandria melihat adanya sifat kedagingan yang berdosa sebagai penyebab munculnya bidat. Dia menegaskan bahwa ajaran bidat memancar dari keserakahan pribadi, keinginan yang sia-sia serta kesalahan menafsir Alkitab (Strom. VII. 15). Cyprian bahkan memberikan pandangan yang lebih tajam dan keras dengan mengatakan bahwa Setan menanamkan ajaran sesat dan perpecahan dalam Gereja untuk menghancurkan iman orang percaya, mencemarkan kebenaran serta memecah kesatuan (Unity of the Church 3).

Bagaimanakah Gereja mencegah dirinya dari ajaran sesat tersebut? Berbagai upaya dilakukan oleh Gereja mula-mula untuk menangkal pengajaran-pengajaran sesat.

Pertama, semua jemaat didorong untuk mengikuti pemimpin masing2. Maka di sini terlihat peran pemimpin Gereja, seperti Penilik untuk memelihara jemaat masing-masing. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari tulisan rasul Paulus di mana Paulus misalnya mengirim Timotius untuk menggembalakan jemaat di Efesus. Dengan demikian slogan: "Follow your pastors/leaders" menjadi sangat terkenal pada Gereja mula-mula. Tetapi bagaimana kalau ada kelompok atau jemaat yang belum memiliki Penilik atau semacam pendeta jemaat? Karena itu sangat dirasakan pentingnya kehadiran Kitab Suci sebagai buku pegangan umat. Inilah cara kedua untuk menangkal bidat: mengupayakan proses kanonisasi Alkitab. Sekalipun proses kanonisasi ini berlangsung sangat sulit dan memakan waktu yang sangat lama, namun usaha itu tetap dilakukan. Kita tahu bahwa seluruh kitab-kitab dalam Perjanjian Baru sebenarnya telah selesai ditulis pada abad pertama. Meskipun demikian, barulah abad keempat proses pengkanonan dianggap selesai, di mana Gereja mula-mula akhirnya menerima Alkitab PL sebanyak 39 kitab, dan PB sebanyak 27 kitab. Sejak saat itu, sekalipun masih ada upaya-upaya untuk untuk merekanonisasi Alkitab, usaha tersebut tidak pernah diterima oleh seluruh Gereja Tuhan. Hal ini terbukti hingga saat ini kita tetap menerima kanon tersebut di atas. Jadi, dari sini kita dapat melihat bahwa sesungguhnya Alkitab yang terdiri dari 66 kitab merupakan harta Gereja yang sangat berharga. Kita dapat meyakini bahwa itu sesungguhnya merupakan karya besar Roh Kudus melalui GerejaNya.
Karena itu, adalah merupakan suatu keharusan yang wajar bagi setiap anak-anak Tuhan untuk sungguh-sungguh menghargai serta mempelajari harta yang sangat indah dan berharga tersebut.

Selanjutnya, sekalipun Kanon Alkitab tersebut telah diterima, namun masih dianggap kurang untuk menangkal bidat-bidat yang muncul. Mengapa? Karena Alkitab yang terdiri dari 66 buku tersebut dianggap terlalu luas
dan tidak mengajarkan inti sari iman yang cukup jelas. Karena itu, muncullah cara ketiga yaitu merumuskan "the rule of faith" di mana disini ditegaskan ajaran-ajaran yang dianggap sangat penting. Gereja mula-mula mempertahankan dirinya dengan berpegang kepada pengakuan-pengakuan iman. Karena itu Ireneus menyerukan bahwa bidat-bidat tidak mengikuti baik Kitab Suci, maupun pengajaran Gereja mula-mula yang bersumber dari pengajaran rasul-rasul, yang dipelihara dalam Gereja secara turun temurun (Against Heresies III.2). Demikian juga, Tertullian menegaskan bahwa tidak mengetahui apapun dari ajaran bidat yang bertentangan dengan pengakuan iman sebenarnya sama dengan mengetahui semuanya (Prescription of Heretics 7).

Pengajaran yang ketat dari "the rule of faith" mengakibatkan semakin mudahnya menolak ajaran bidat, dan mendefenisikan iman, seperti pengakuan iman rasuli, pengakuan Nicea, Pengakuan Kalsedon, Pengakuan Atanasius.Selanjutnya, dari masa Reformasi aliran protestan telah membedakan ajaran yang benar dari bidat dengan munculnya pengakuan2 dan pernyataan2 seperti Formula of Concord, the Thirty nine Articles, and
the Westminster Confession.



IV. Ciri-ciri bidat atau ajaran yang mengarah kepada bidat


Setelah membahas hal tersebut di atas, maka kita perlu menyimpulkan beberapa hal penting dan praktis tentang ciri-ciri bidat, atau ajaran yang mengarah kepada bidat. Dengan demikian diharapkan bahwa kita dapat mencegah diri dari bidat, atau kemungkinan menjadi bidat.


1. Memiliki Injil atau 'kabar baik' yang berbeda.

Dalam Galatia 1: 8-9 ditulis mereka mengikuti Injil lain (heteron euanggelion) yang sebenarnya bukan Injil (ouk allo). Jadi menarik sekali memperhatikan ayat tersebut di atas, di mana rasul Paulus tetap menggunakan istilah kabar baik (Injil lain) terhadap pengajaran sesat tersebut. Dengan demikian kita melihat bahwa ajaran sesat pun tetap memiliki sesuatu 'kabar baik'. Sebenarnya hal itulah yang membuat jemaat tetap tertarik, bahkan karena 'kabar baik' itu begitu diiklankan serta dipromosikan, maka jemaat biasa atau awam pun datang berbondong-bondong.

Tidak heran, Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa penyesat itu akan datang seperti serigala berbulu domba. Kelihatannya tulus, lugu serta tidak menakutkan; tetapi begitu kita menyerahkan diri, kita habis ditelannya.


2. Injil plus; artinya, memiliki Kitab Suci yang sama, tetapi ditambah dengan kitab-kitab lain yang memiliki kuasa atau otoritas yang sama dengan Alkitab. Bandingkan dengan kitab Mormon dengan ajaran Joseph Smith, demikian juga dengan aliran saksi Jehova dengan Watch Towernya.
Pengajar-pengajar saksi Jehovah tersebut memang membawa Alkitab juga ke rumah-rumah yang didatanginya. Namun, kemudian, mereka akan mempengaruhi jemaat dengan segala tipuan licik mereka yang mereka tuliskan pada majalah tersebut di atas.


3. Injil minus, artinya ,memiliki Kitab Suci yang sama tetapi sebagian dari Alkitab tersebut dikeluarkan karena tidak sesuai dengan ajaran yang mereka anut. Bandingkan Marcionisme yang mengeluarkan kitab2 yang berbau Yahudi seperti Injil Matius. Saat ini cukup banyak mahasiswa dan persekutuan jemaat yang dibingungkan oleh ajaran PSTMRG yang menyerang adat istiadat serta menganggapnya berhala. Ketika saya berdialog dengan orang ini, saya menantangnya dengan menunjukkan sikap Paulus. Tetapi dengan tegas dia mengatakan: "Saya tidak menerima Paulus, saya adalah pengikut Tuhan Yesus". Kemudian dia menjelaskan tulisan-tulisan rasul
Paulus yang menurut dia menyesatkan. Ada lagi issu belakangan ini yang dimunculkan, yaitu masalah nama Yesus yang tidak boleh disebut Allah, karena menurut dia Allah berasal dari ilah. Karena itu, kelompok ini mengusulkan menyebut Allah sebagai Jehova saja.


4. Penekanan pada formalitas ibadah, seperti menciptakan aturan2 baru yang bersifat kaku, membuat larangan2 baru, di mana ini dianggap sebagai Injil (Bandingkan Kol.2: 16, 21-23). Saya teringat adanya kelompok yang mewajibakan jemaat mereka memakai kerudung, tidak boleh pakai cincin.

Ada juga jemaat yang memberi nama-nama baru kepada anggotanya, ada lagi yang memberi pangkat-pangkat baru yang sebenarnya tidak ada dalam Alkitab. Sehingga tepatlah apa yang dikatakan oleh rasul Paulus bahwa mereka ini mengejar bayangan Kristus, tetapi bukan Kristusnya. Paulus menulis: "Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi" (Kol.2: 23) Mengapa? Karena mereka ini sesungguhnya tidak berpegang teguh kepada Kepala, yaitu Kristus" (ayat 19). Jadi, penekanan dan kecenderungan kelompok ini adalah pada kulit, bukan kepada isi. Sedangkan ajaran yang benar akan memusatkan diri kepada Kristus dan ajaranNya (Kol.2: 17,19).. Jika hal ini terjadi, maka marilah kita lihat tahapan kejatuhan mereka sebagaimana dikatakan Paulus kepada jemaat di Roma: "Sebab oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

5. Kecenderungan kepada ibadah yang bersifat supranatural. Rasul Paulus menulis ciri mereka ini: beribadah kepada malaikat, berkanjang kepada penglihatan2, dll. Bandingkan dengan Mat.24: 24 Di sini Tuhan Yesus menjelaskan kesesatan yang disertai dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat. Rasul Paulus menulis dalam 2Tes.2: 2 adanya ilham roh (lihat juga ayat 9). Mungkin sebagian dari kita mengetahui dan mengingat apa yang dituliskan oleh sebuah koran beberapa tahun lalu, yaitu adanya kelompok di salah satu wilayah Jakarta Selatan. Mereka ini katanya beribadah kepada malaikat dan dalam ibadah penyembahan, mereka memadamkan semua lampu. Dalam ibadah ini akan diberikan nubuatan nubuatan baru, serta penglihatan-penglihatan baru. Mereka ini tetap tinggal di sebuah rumah, mengisolasi diri dari masyarakat sambil menanti kedatangan Kristus. Tetapi apa yang terjadi? Bukan Kristus yang datang, yang datang adalah polisi dan membubarkan kelompok tersebut!


6. Pelayanan yang membesarkan diri sendiri (Kol.2: 18b). Kita ha rus sungguh-sungguh mewaspadai type pengkhotah yang cenderung berfokus pada diri sendiri: banyak menceritakan diri sendiri seperti adanya penglihatan, pengangkatan ke sorga. Kita juga harus mewaspadai gaya berkhotbah yang banyak menggunakan kalimat "Tetapi saya berkata kepada saudara…tetapi saya berkata kepada saudara… tetapi saya berkata kepada saudara". Pengkhotbah seperti ini sadar atau tidak telah menciptakan kultus individu, telah membuat otoritas khotbah berada pada "sang aku", bukan pada Allah dan firmanNya. Padahal, nabi-nabi dalam PL sekalipun -yang sebenarnya sedemikian dipimpin Roh dan sedemikian berkuasa dalam khotbah mereka- tidak menggunakan gaya seotoritatif itu. Sebagai contoh; kita membaca dalam kitab Yeremia, "Beginilah firman Tuhan…" (Yer. 17: 5). Sebenarnya, bila kita memperhatikan khotbah Penginjil Billy Graham yang sangat terkenal itu, kita akan menemukan model yang sama mengikuti nabi Yeremia tersebut. Kita dapat mendengar khotbahnya, atau membaca tulisannya dengan kalimat "The Bible says… the Bible says…the Bible says". Sebenarnya, khotbah yang berpusat kepada Tuhan dan FirmanNya tersebut di atas bukan hanya pola PL, tetapi juga pola PB. Itulah sebabnya pengkultusan individu tersebut di atas sangat kontras dengan pernyataan Yohanes, "Dia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil" (Yoh 3: 30,). Demikian juga Tuhan Yesus menegaskan bahwa "Roh Kudus pun tidak berkata-kata tentang diriNya sendiri… Ia akan memuliakan Aku" (Yoh.16: 13c-14a).




Disalin dari tulisan : Mangapul Sagala
http://www.mangapulsagala.com/articles.php?cat_id=12

0 komentar:

Poskan Komentar