Selasa, 21 September 2010

Gairah untuk Kemuliaan Allah dan Keselamatan Jiwa-jiwa

0 komentar
Istilah gairah yang dimaksudkan di sini dalam arti semangat yang besar untuk kemulian Allah dan keselamatan jiwa-jiwa. Apabila cinta kasih berkembang dalam hidup seseorang maka dalam hati orang itu akan timbul suatu gairah untuk kemulian Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa. Hal ini berlaku untuk setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh mulai mencintai Allah terlebih para religius dan para imam. Oleh karena itu, apabila dalam hidup seseorang tidak ada lagi gairah ini, maka itu merupakan suatu pratanda bahwa orang belum sungguh berkembang dalam hidup rohani, sebab gairah ini merupakan tanda bahwa cinta Allah harus berkembang dan secara normal menghasilkan kemuliaan Allah. Apabila kita menghayati sungguh-sungguh kasih Allah itu, maka gairah ini akan timbul. Bagi orang yang dipanggil secara istimewa untuk menjadi saksi-saksi Kristus diperlukan suatu usaha untuk memupuk gairah ini di dalam dirinya.
Cinta kepada sesama merupakan pancaran dari cinta yang seharusnya kita miliki kepada Allah karena kasih kepada Allah harus juga dipancarkan dan dikembangkan dalam kasih kepada sesama. St. Yohanes dengan tegas mengatakan: siapa yang mengasihi Allah, harus mengasihi sesama. Kasih kepada sesama bersifat ilahi dan seperti rahmat kasih merupakan partisipasi dalam hidup batin Allah. Kasih ini harus betul-betul kuat dan begitu menyala, membara dalam hidup seorang Kristen yang bersemangat sehingga dapat disebut dengan sebuah istilah Gairah. Khususnya bagi suatu jiwa yang dibaktikan kepada Allah merupakan suatu kewajiban bahwa dia harus memiliki gairah untuk kemulian Allah dan keselamatan manusia. Gairah merupakan semangat besar yang sama yang menjiwai seseorang yang terarah kepada Allah, tetapi juga kepada sesama dan gairah ini harus selalu ada walaupun tidak harus selalu dapat dirasakan, bahkan di dalam kekeringan dan pencobaan.
Gairah ini merupakan pancaran dari kasih yang bersifat rohani yang ada dalam kehendak dan yang menjadi semakin murah hati dan semakin berjasa bila itu semakin tidak dirasakan karena gairah ini harus berada di atas perasaan dan tidak sama dengan perasaan . Gairah tersebut akan membawa kita kepada kebaikan dengan memperhatikan motivasi-motivasi gairah tersebut dan bagaimana kualitasnya serta sarana-sarananya.

MOTIVASI GAIRAH
Alasan pertama bagi setiap orang Kristen untuk bergairah bagi Allah ialah bahwa Allah itu patut dicintai di atas segala sesuatu. Ini bukan hanya suatu nasihat, tetapi ini adalah perintah utama dan pertama. Cinta itu tidak mengenal batas dan kita dipanggil dan berkewajiban untuk terus bertumbuh dalam cinta kasih selama kita berada di dunia ini. Kita dipanggil untuk mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan seluruh kekuatan dan dengan segenap akal budi kita.
Dalam Perjanjian Lama perintah yang sama telah dirumuskan dalam istilah yang hampir sama. Kita jumpai dalam diri para nabi yang begitu berkobar-kobar semangatnya untuk kemuliaan Allah untuk mengingatkan umat Allah akan kewajiban mereka yang besar yakni mengabdi Allah. Seperti pemazmur berkata: “sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku” (Mzm 69:10). Sehingga mereka bersemangat bagi Allah dan apa yang orang katakan bagi Allah itu menusuk hatinya seolah-olah melawan mereka. ”Nyala cintaku menghabiskan aku, sebab para lawanku melupakan segala firman-Mu. Aku ini kecil dan hina, tetapi titah-Mu tidak kulupakan” (Mzm 119:139, 141). Dalam diri nabi Elia ada gairah, yaitu ketika berada di gunung Horeb: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1Raj 19:10). Waktu itu Tuhan yang berkata kepada Elia bahwa Dia akan lewat di hadapannya dan setelah Elia mengalami kehadiran Tuhan, hatinya dipenuhi lagi dengan semangat. Dalam saat seperti itu Allah menyatakan kepadanya bahwa dia harus memanggil Elisa sebagi muridnya untuk menggantikan dia. Dalam kitab Makabe, imam Matatias memberikan dorongan dan nasehat kepada anak-anaknya untuk peperangan suci dan berkata: “leluhur kita Pineas telah mendapat perjanjian keimanan abadi, oleh karena kegiatannya yang sangat, Elia telah diangkat ke surga, karena kegiatannya yang sangat untuk hukum taurat, Daniel dilepaskan dari moncong singa karena kelurusan hatinya. Anak-anakku, hendaklah tetap bersifat jantan dan gagah berani untuk hukum taurat” (1Mak 2:54, 58, 60, 64).
Dalam injil hal ini yang mendorong Yesus untuk membersihkan kenisah, menjungkirbalikan meja penukar uang dan mengusir orang yang berdagang di kenisah itu. Para murid setelah Pentakosta mempunyai semangat yang begitu besar untuk Allah, semangat yang berkobar-kobar untuk kemulian Allah dan bahkan beberapa di antaranya menjadi martir seperti Stefanus dan Yakobus. Di dalam Gereja semangat yang besar ini atau gairah ini selalu ada di mana darah dicurahkan sebagai kesaksian untuk Allah.
Adapun motivasi untuk semangat atau gairah adalah bahwa Allah patut dicintai di atas segala sesuatu dan tanpa ukuran dan tanpa batas. Mengasihi manusia ada batasnya menurut norma Allah, sedangkan untuk mencinta Allah tidak ada batasnya kareana dia sungguh-sungguh tidak terbatas.
Motivasi yang kedua adalah kita mau mengikuti Tuhan Yesus sendiri. Dalam diri Yesus kita jumpai semangat yang berkobar-kobar seperti yang dikatakannya sendiri: “Saya datang untuk membawa api ke dunia dan betapa rindu Aku api itu menyala” (Luk 12:49). Dalam kitab Ibrani dikatakan: “karena itu ketika ia masuk ke dunia ia berkata; korban dan persembaan tidak Engkau kehendaki tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada korban bakaran dan korban penghapusan dosa Engkau tidak berkenan. Lalu aku berkata; sungguh, Aku datang. Dalam gulungan kitab tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:5-7). Jadi semangat untuk melakukan kehendak Allah begitu besarnya dan selama hidupnya Yesus mencari kehendak Allah sehingga ia berkata makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku yaitu keselamatan umat manusia. Yesus selalu mempersembahkan diri-Nya sendiri selama hidup-Nya sehingga kerinduan-Nya sama dengan Bapa-Nya yaitu keselamatan jiwa-jiwa dan untuk itulah Ia telah mengurbankan diri-Nya di atas kayu salib dengan tujuan untuk memuliakan Allah dengan cara menyelamatkan umat manusia. Ia rela menanggung penderitaan dan mati disalib demi cinta-Nya kepada manusia. Dengan demikian kita dapat mengerti apa yang dikatakan St. Yohanes: “Begitu besar cinta-Nya kepada dunia sehingga Dia menyerahkan putra tunggal-Nya sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).
Yesus melakukan tujuan kerinduan Bapa-Nya dan juga kerinduan-Nya sendiri. Aku datang untuk memberikan hidupku bagi keselamatan dunia. Kerinduan Allah yang terdalam ialah keselamatan kita dan orang yang mengasihi Allah harus memiliki kerinduan itu. Seperti Rasul Paulus mengatakan cinta kasih Kristus mendorong aku untuk mewartakan sabda. Berbeda-beda seturut panggilannya.
Jikalau orang terus berkembang dalam hidup rohaninya dan senantiasa hidup di hadirat Allah maka dia semakin bersatu dengan Allah dan doa-doanya berkenan kepada Allah. St. Theresia Avila mendirikan biara-biara karmelites dengan satu tujuan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa-jiwa. Mereka mendampingi imam yang berkarya dengan berdoa dan berkorban di belakang tembok biara.Kehausan untuk kemulian Allah dan keselamatan jiwa-jiwa menyebabkan hati Yesus bersedih sekali ketika melihat dosa manusia dan kekerasan hati manusia. Hal itu juga meyebabkan penderitaan Bunda Maria di kaki salib.
Selama hidupnya kristus merasakan kerinduan untuk keselamatan jiwa-jiwa dan terus menerus membawa api ini dalam hatinya. Hal ini dapat kita lihat juga dalam diri St. Theresia dari Lisieux, api itu berkobar begitu hebatnya sehingga sampai menjadi siksaan baginya dan kadang-kadang memberikan kekuatan kepadanya untuk menaggung segala sesuatu. Lalu Yesus juga mengatakan bahwa betapa rindunya Dia untuk mengurbankan diri-Nya demi keselamatan manusia dan Dia telah memberikan diri-Nya dalam kurban di salib bagi kita.
Motivasi ketiga adalah nilai tidak terbatas dari jiwa-jiwa itu, yaitu nilai yang sangat tinggi dari jiwa itu sehingga satu jiwa lebih berharaga dari seluruh dunia ini. Tiap-tiap jiwa itu lebih berharga dari alam semesta yang kelihatan ini. Setiap jiwa dipanggil untuk menerima keselamatan yang telah diperoleh Yesus. Kita juga harus mempunyai semangat yang sama seperti pengalaman para rasul yang keluar dari Sanhedirin dan bersukacita karena mereka dianggap layak untuk mederita demi nama Yesus. Begitu juga St. Paulus yang memiliki semangat yang besar demi keselamatan bangsanya dia seolah-olah rela terkutuk seandainya itu mungkin (bdk. Rm 9:3). St. Theresia dari Lisieux yang mengungkapkan kerinduan untuk masuk neraka dan menjadi orang yang rindu mencintai Tuhan di sana. Karena cinta akan Tuhan maka mau tidak mau akan mengalir dalam cinta kepada sesama. Jikalau ada orang yang mengatakan cinta kepada Tuhan dan tidak dapat mencintai sesamanya maka cinta itu tidak otentik.
Cinta kepada Allah adalah yang pertama kemudian memancar kepada sesama. Karena nilai jiwa-jiwa itu begitu besarnya maka kita harus mempunyai semangat yang begitu besar untuk menghasilkan banyak pertobatan. Sehingga adanya para martir itu sekaligus membuktikan nilai Gereja dan kesucian Gereja bahwa dalam Gereja selalu ada kesucian dan ada orang yang rindu mempersembahkan seluruh hidupnya untuk kemulian Allah. Sehingga ada “Jium” dalam Gereja yang mengatakan: “Sangguis Martirum semen Kristiannorum = Darah para martir adalah benih- benih orang Kristen yang baru.” Jikalau seorang mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan ini akan mendatangkan rahmat yang berlimpah-limpah untuk orang Kristen, seperti di Korea memiliki banyak martir dan perkembangan agama Kristen menjadi kuat dewasa ini.
Motivasi keempat adalah adanya musuh-musuh Gereja yang berusaha menimbulkan kekacauan, kerusakan dan kematian. Seolah-olah laskar neraka seluruhnya dikerahkan dengan kekuatan yang baru karena mereka tahu saatnya sudah pendek. Perjuangan setani melawan Tuhan dan Gerejanya dan berhadapan dengan situasi ini kita tidak ada waktu untuk istirahat dan berpangku tangan melihat musuh yang begitu giat yang merong-rong dan merusak Gereja dan menyeret begitu banyak orang ke dalam kebinasaan. Kita harus mempunyai semangat untuk berjuang demi Tuhan, tidak harus menunggu kelak, tetapi dari sekarang melalui kurban-kurban kita , penyangkalan diri dan semangat lain untuk itu. Kita diberi tugas dan kewajiban yang cukup besar untuk mewartakan Tuhan.
Gereja melihat dampak besar dari perjuangan ini. Sejak semula perjuangan ini merupakan perjuangan hidup dan mati. Jikalau kita tidak berjuang bersama Kristus maka kita sendiri akan tergilas. Dengan perjuangan ini kita dapat mewartakan sabda Tuhan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Jikalau kita melihat perjuangan ini besar maka kita tidak akan melihat luka-luka yang kecil yang diderita dalam perjalanan hidup ini. Kita diharapkan untuk tidak berhenti karena luka-luka kecil dan jika luka-luka itu tidak diperhatikan maka akan sembuh dengan sendirinya.

KUALITAS GAIRAH
Gairah untuk Allah ini harus membara karena pancaran dari cinta kasih sendiri. Membara secara rohani dan bukan dorongan sesaat atau antusiasme dari suatu temperamen tertentu atau antusiasme yang dirasakan atau suatu dorongan aktifitas natural yang bertindak keluar demi mengalami kepuasan pribadi dan juga bukan semangat yang keliru yang lebih mencari diri sendiri dan melelahkan orang lain.
Ada semangat kodrati belaka yang timbul dari egoisme dan semangat ini berkobar-kobar bahkan mengganggu orang lain. Semangat yang merupakan antusiasme sesaat akan berkobar-kobar untuk beberapa waktu dan kemudian akan perlahan-lahan menjadi padam. Sedangkan gairah untuk Allah atau semangat yang membara ini, agar dapat bertahan untuk waktu yang lama harus bebas dari pencarian diri yang eksesif berlebihan. Pada permulaan ada pencarian diri kemudian perlahan-lahan makin dimurnikan dan semakin tahan uji dan tekun. Oleh karena itu, semangat ini harus diterangi oleh iman, harus sabar , lembut dan tanpa pamrih.
Jikalau kita semakin berkembang dalam kasih kepada Allah dan sesama maka kita semakin berkorban. Kita mengenal beberapa tokoh, misalnya Paulus yang pergi ke mana-mana tanpa mengenal lelah dan tanpa memperhitungkan korban. St. Leopold Mondik begitu besar semangatnya tanpa perhitungan mendengarkan pertobatan atau pengakuan dan membawa orang kepada pertobatan. Ketika jenazahnya digali, semuanya sudah rusak kecuali tangannya yang dipakai untuk memberkati orang.
Gairah untuk Allah ini harus pertama-tama diterangi oleh iman dan oleh ketaatan dan kewaspadaan, kebijaksanaan, hikmat dan nasihat. Dalam hal ini terang akal budi kodrati saja tidak cukup sebab dalam hal ini kita dipanggil bukan hanya untuk melakukan karya-karya manusiawi, tetapi karya ilahi yaitu bekerja untuk keselamatan dan pengudusan jiwa-jiwa dengan sarana-sarana yang diajukan oleh Tuhan sendiri. Untuk menyelamatkan manusia kita hanya dapat menggunakan sarana yang dipakai Tuhan. Semangat yang hanya dijiwai oleh roh kodrati belaka itu berbahaya karena bukannya mempertobatkan dunia, tetapi perlahan-lahan ditobatkan oleh dunia. Bukannya mempengaruhi dunia, tetapi dipengaruhi oleh dunia.
Banyak karya dalam Gereja dewasa ini yang tidak membawa orang dekat dengan Allah, tetapi menjauhi Allah dan menjadikan serupa dengan dunia sehingga cara berpikir, merasa sudah serasi dengan dunia karena mereka merasa diterima oleh dunia. Ketika orang berpikir tentang membangun dunia saja tanpa sarana Allah, yakni rahmat Allah, hal itu merupakan suatu utopia, tipu musliat iblis. Seringkali dalam pewartaan hal yang pokok tentang sabda Allah dilalaikan dan dalam hal ini merupakan kemenangan bagi si iblis. Pertobatan pribadi dilalaikan dan ini merupakan suatu tragedi.
Ketika kita melihat pada zaman Yesus, apakah semua adil? Makmur? Jawabannya tidak. Banyak ditemukan orang yang miskin. Yesus pada saat itu tidak memerintahkan pengikut-Nya untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak adil, tetapi Dia membalikkan hati manusia dan dengan alasan ini Yesus ditolak oleh orang Yahudi yang berpikir manusiawi dan duniawi.
Tugas kita berat karena melawan arus dan harus dipahami de facto mewartakan injil itu merupakan tindakan yang melawan arus. Kita bukan acuh tak acuh dengan ketidakadilan, tetapi ketika berhadapan dengan ketidkadilan kita memilih cara melalui pertobatan dari dalam diri manusia dan secara perlahan-lahan kita mengubah masyarakat. St. Paulus pada saat dia mewartakan Injil, dia menemukan ketidakadilan yang ngeri, perlakuan terhadap budak belian dan dia memilih untuk mempertobatkan orang dari dalam yang kemudian dapat mengubah struktur masyarakat.
Kita harus betul-betul sadar akan hal ini, sebab jikalau tidak justru bukan kita yang menobatkan dunia, tetapi dunia yang menobatkan kita. Jiklaua orang membangun dunia yang adil orang sering lupa tujuan dunia yang akan datang yang sudah secara jelas dinyatakan dalam dokumen “Gaudium et Spes: perjuangan kita tidak boleh lepas dari tanah air surgawi.” Jadi semangat yang tidak benar dari orang yang ambisius, impulsive, dan tidak bijaksana, melupakan yang hakiki dan sarana-saran yang hakiki, yaitu doa dan pertobatan. Hal itu berkali-kali diingatkan oleh Bunda Maria dalam penampakkan di Fatima, Lourdes, Medjugore, dan di tempat lain bahwa untuk mempertobatkan dunia kita membutuhkan sarana-sarana adikodrati.
Khususnya dalam situasi tertentu kita membutuhkan kuasa Roh kudus untuk memberikan terang kepada kita, kebijaksanaan dan nasihat bukan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa, tetapi untuk melaksanakan tugas kita sehari-hari dengan semangat iman dan cinta kasih dan untuk menghayati misteri hidup kita dan misteri Allah dalam sakramen-sakramen penuh iman dan perhatian. Untuk itu dituntut suatu ketaatan yang heroik dan apabila ketaatan ini tidak ada, maka segala yang lain dibahayakan. Ada orang tertentu dipanggil kepada kesucian, tetapi tidak mencapainya karena tidak memiliki kebajikan yang heroik dan disamping itu harus diterangi oleh iman, harus sabar dan lembut hati.
Untuk mempertahankan semangat yang berkobar itu, gairah ini harus menghindari sikap yang mudah jengkel terhadap kejahatan atau tanpa alasan karena kita akan selalu jengkel karena kejahatan selalu ada. Jikalau demikian orang akan ada dalam kemarahan yang sia-sia dan ada dalam kritikan yang merusak bukan kritik yang membangun. Gairah ini harus tahu mentolerir kejahatan tertentu untuk menghindarkan kejahatan yang lebih besar. Misalnya: dalam melihat ketidakadilan dalam masarakat kita tidak hanya merasakan kepahitannya saja, tetapi kita mewartakan apa yang sebaliknya maka ada perubahan dalam masarakat. Kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan. Apa yang kurang baik tidak dapat disingkirkan begitu saja sebagai kejahatan. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya dan sumbuh yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya sampai Ia menjadikan hukum itu menang” (Mat 12:20). Dalam hal ini kita juga harus tetap membedakan bahwa kita harus membenci dosa, tetapi mencintai pendosa. Dosa adalah dosa dan kita mencintai pendosa seperti yang dilakukan Yesus terhadap Matius. Allah membiarkan kejahatan itu demi kebaikan yang lebih tinggi dan seringkali kita tidak melihatnya dan kita belum dapat melihatnya, tetapi yang akan memancar di akhir jaman dalam terang keabadian. Misalnya darah para martir yang merupakan benih orang Kristen yang baru. Pada saat kejadian kita tidak memahaminya dan untuk memahaminya kita membutuhkan iman.
Di samping itu semangat ini membutuhkan sikap tanpa pamrih dengan tidak mengakui apa yang sebetulnya milik Allah dan milik orang lain. Orang tertentu mewartakan sabda Allah, tetapi dimotivasi oleh pencarian diri sendiri, mereka memandang karya ini sebagai karya mereka sendiri. Toller, seorang mistikus Jerman abad ke-14 memberikan contoh dengan sebuah perbandingan, yakni antara seekor anjing pemburu yang tidak setia memburu kijang dan setelah ditangkap dimakannya sendiri dan tidak dibawa kepada tuannya. Berbeda dengan anjing yang setia melakukan sebaliknya. Demikian juga orang yang mewartakan Allah. Mereka ingin agar orang terikat pada dirinya sendiri yang seharusnya dimenangkan untuk Tuhan. Sehingga Tuhan kadang menghukum mereka karena Tuhan tidak dapat bekerja. Jikalau sebaliknya maka Tuhan dapat bekerja dalam dan melalui mereka. Apabila mereka sadar bahwa mereka hanya alat belaka maka Tuhan akan memakai mereka.
Oleh karena itu, kita diharapkan untuk tidak mengakui milik kita apa yang menjadi milik orang lain. Sering kali kita melakukan perbuatan baik menurut kehendak kita dan terkadang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini akan tampak ketika kita menghalangi orang lain untuk melakukan sesuatu dan mencapai sukses. Hal ini sekaligus menguji kebenaran apakah semangat kita untuk mewartakan Allah dilakukan secara murni atau tidak. Seharusnya kita bersukacita ketika menyaksikan kesuksesan orang lain. Kedengkian dan iri hati menunjukkan bahwa motivasi kita tidak murni. kita harus sadar bahwa kita melakukan itu demi Tuhan dan bukan demi kita sendiri. Yesus mengajarkan agar kita menerima kerajaan Allah seperti anak kecil. Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Kita harus rendah hati dan tanpa pamrih. Yesus menolak permintaan untuk seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri karena hal itu menunjukan adanya keinginannya untuk mencari kehormatan. Siapa yang menjadi pertama dia harus menjadi hamba datang untuk melayani. Dalam percakapan dengan anak Zebedeus, Yesus mengajar anak Zebedeus untuk rendah hati dan memiliki kerendahan hati. Tuhan terkadang mengoreksi kita sampai kita mengalahkan egoisme dan melakukan kehendak Allah dibawah ketaatan sehingga orang menjadi layak dan mampu bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa.
Maka semangat untuk kemulian Allah harus dipertahankan sifatnya yang berkobar, tetap rendah hati, tenang, lembut hati seperti Maria dan para kudus dan tidak sesuatupun yang mengalahkannya karena dengan berani mereka mengatakan bila Allah bersama kita siapakah yang dapat melawan kita. Hal ini mungkin jikalau sendiri sudah dimurnikan karena itu betapa pentingnya pemurnian. Begitu cepat kita berapi-api mewartakan Allah, tetapi tidak berdasar karena bukan dari Roh Kudus, tetapi keinginan diri sendiri
Semangat untuk Allah ini diungkapkan dalam pelbagai bentuknya yakni pelayanan untuk pertobatan, mengajar untuk mengenal Allah. Pelayanan silih kepada Allah yaitu doa untuk keselamatan jiwa-jiwa, yang memancar dari cinta kasih diterangi iman sabar tekun lembut hati, tanpa pamrih dan menghasilkan buah dan memuliakan Allah dengan mengikuti jejak Kristus dan melepaskan jiwa-jiwa dan menyelamatkan mereka. Inilah semangat yang harus ada dalam diri kita dan ini merupakan jalan kepada kesucian. Supaya bertahan harus ditopang oleh doa yang mendalam terus menerus dan hidup dalam hadirat Allah dan dalam ketaatan yang total kepada Allah dan ketaatan yang utuh kepada-Nya sehingga Tuhan betul-betul memakai kita dan menggerakkan kita seperti yang dikehendaki.
Rm. Yohanes Indrakusuma
Penulis tetap di situs carmelia.net

0 komentar:

Poskan Komentar