Selasa, 21 September 2010

RAHASIA THE SECRET

0 komentar
(Artikel ini merupakan cukilan dari buku kecil yang diterbitkan Penerbit Shanti Bhuana dengan judul “The Secret, Karya Allah atau Karya Iblis?”)

Baru-baru ini sebuah film diterbitkan. Judulnya, “The Secret” (Rahasia). Film yang dijual dalam bentuk DVD ini laku keras, laris manis karena menawarkan hal-hal yang menggiurkan. Tidak hanya sekedar teori, “The Secret” menyajikan pula kesaksian dari banyak orang yang berhasil setelah mempraktikkan kiat-kiat seperti yang diuraikan dalam film tersebut. Propaganda film tersebut diperkuat lagi dengan beredarnya buku dengan judul yang sama. Kemudian dilengkapi pula dengan beberapa ‘spin-off’ yang masih ditulis oleh orang-orang yang berada dalam satu lingkaran The Secret. 
Membaca buku ini saya teringat akan perjumpaan saya dengan New Age pada awal ’90-an. Saat itu saya begitu tertarik pada ajaran New Age. Di dalam gerakan ini, kekuatan manusia, khususnya kekuatan pikiran menjadi perhatian utama. Dengan kekuatan pikiran kita bisa mencapai apa saja. Bahkan manusia bisa menjadi tuhan. Ketika membaca The Secret, saya kaget karena buku itu betul-betul menggambarkan persis apa yang dulu saya yakini dan praktikkan. Di dalam artikel ini saya akan berusaha untuk menggambarkan betapa sesatnya The Secret!

Tawaran “The Secret”
Sering saya dengar orang pindah agama karena bagi dia agama yang lama tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan primer, sedangkan keyakinan barunya ternyata membuahkan kekayaan dan kesehatan baginya: 
“Tuhan tidak menjawab doa-doaku di sini. Namun, di sana saya menemukannya.” 
“Untuk apa saya mengabdi pada Tuhan yang tidak menjawab doa-doaku?”
“Sejak saya bergabung dengan kelompok ini, bisnis saya jadi lancar.”
“Saya berdoa mohon kesembuhan di Gereja saya, tetapi tidak sembuh-sembuh. Begitu saya mencoba menjalankan apa yang diajarkan kelompok itu, berangsur-angsur saya sembuh. Itulah kebenaran!”

Kalau dalam benak Anda hanya ada semangat seperti di atas, sangat mungkin The Secret akan menarik hati Anda. The Secret menjanjikan kepastian, sepasti hukum gravitasi (bdk. TS, hlm. 42), akan “memberikan segala sesuatu yang Anda inginkan: kebahagiaan, kesehatan, dan kekayaan”. (TS, hlm. 1). Dengan memegang rahasia ini dijamin “kekuatan untuk menggerakkan dunia ada di tangan Anda”! (TS, hlm. 103). 

Apa itu The Secret?
Rahasia apa yang dimaksud? DVD atau buku itu menjawab: Hukum tarik-menarik (law of attraction)! Di balik frasa tersebut ada beberapa kata atau frasa kunci: visualisasi, penciptaan, frekuensi, harapan, dan berpikir positif.
Inti dari hukum tarik-menarik sebenarnya ialah kekuatan berpikir, berpikir secara positif. Manusia digambarkan sebagai magnet yang amat kuat. Setiap getaran pikiran kita menarik alam semesta ke arah kita. Apabila getaran pikiran yang muncul tanpa sadar saja sudah punya dampak atas alam semesta, apalagi getaran pikiran yang disengaja dan disadari. Semakin sering dan kuat getaran yang dikirimkan pikiran kita, semakin besar pula daya tarik yang dihasilkan. 
Apa yang bisa ditarik? Menurut The Secret, apa saja. Tidak terbatas. “Kita dapat memiliki apa pun yang kita pilih,” jamin buku ini (TS, hlm. 1): rumah, kekayaan, pacar, pasangan hidup, uang sebesar berapa pun, ketenaran, kesuksesan, kesembuhan, kesehatan, pencapaian fenomenal, tubuh yang ideal, menang lotre, bahkan hal-hal yang kecil-kecil, seperti: tempat duduk yang baik dalam acara konser, perjalanan yang bebas dari kemacetan, tempat parkir di mal yang ramai saat akhir minggu, dan lain-lain. “Pengetahuan tentang Rahasia dan penggunaan hukum tarik-menarik secara sengaja dapat diterapkan pada setiap hal dalam hidup Anda”. (TS, hlm.114).
Seandainya The Secret dijabarkan dalam bentuk teori-teori saja, mungkin ia tidak akan menarik bagi banyak orang. Akan tetapi, pernyataan-pernyataan tersebut disajikan dalam bentuk kesaksian orang pertama. Sebagai saksi, para narasumber (mereka disebut guru oleh DVD ini) bisa membuktikan kebenaran pernyataan-pernyataan mereka berdasarkan pengalaman mereka sendiri atau sekurang-kurangnya berdasarkan pengalaman orang lain yang mereka saksikan sendiri. Karena itu, mereka bisa tampil sangat meyakinkan. Misalnya, dikisahkan pengalaman seorang ibu dalam membeli rumah. Banyak orang lain yang ingin memilikinya. Namun, ia menggunakan tips-tips The Secret untuk memiliki rumah itu. Ia duduk dan berulang-ulang menulis nama dengan alamat rumah tersebut seolah-olah itu sudah menjadi alamatnya. Ia juga membayangkan perabotannya ada di dalam rumah tersebut. Suatu ketika, ada telepon masuk yang mengabarkan bahwa dialah pemilik baru rumah tersebut. Ia sama sekali tidak terkejut karena ia 'tahu' rumah itu miliknya!
Selain penuh dengan kesaksian, The Secret tampak aman dan benar bahkan bagi orang-orang yang beragama. Ada satu bab yang menekankan pentingnya mengucap syukur. Nilai yang ditekankan pun sama dengan tujuan setiap agama, yakni: kebahagiaan. Tidak mengherankan banyak orang beragama, bahkan orang Kristen, yang mempraktikkan kiat-kiat dalam buku ini. Akan tetapi, kita perlu betul-betul berhati-hati mencermati apa yang ada di balik pernyataan-pernyataan dalam The Secret.

The Secret vs Kristianitas
Sekilas ajaran dalam The Secret tampak amat simpatik. Ia semakin menghanyutkan banyak orang karena dibawakan secara menarik oleh orang-orang yang juga tampak cerdas dan bersinar-sinar gembira. Di beberapa tempat ia bahkan mengutip Injil! Namun, harus dikatakan sekarang bahwa apa yang diajarkan di dalamnya amat bertentangan dengan iman dan moralitas kristiani. Tidak bisa disangkal bahwa The Secret merupakan salah satu wujud dari gerakan New Age. Beberapa narasumbernya jelas-jelas ialah tokoh-tokoh New Age. Demikian pula kutipan-kutipannya banyak diambil dari buku-buku penting New Age. Terlebih lagi, isi dan semangatnya yang memang betul-betul bersifat New Age. 
Berikut ini beberapa poin dalam The Secret yang bertentangan dengan iman Kristiani:

1. Tidak Ber-Tuhan
Di atas saya telah menyinggung bahwa “mengucap syukur” merupakan salah satu hal penting dalam The Secret. Hanya jangan dibayangkan bahwa saat berbicara mengenai mengucap syukur para narasumbernya mengacu pada Allah yang kita kenal. Kepada siapakah atau apakah ucapan syukur mereka diarahkan? Siapakah “Allah” menurut The Secret? Jawabannya agak sulit untuk ditemukan di dalam buku tersebut. Namun, mari kita lihat kalimat-kalimat di bawah ini:
“Semesta akan mulai menyusun ulang dirinya dan mewujudkannya bagi Anda.” (Hlm. 58).
“Percayai Semesta.” (Hlm. 66).
“Ketika Anda mengucap syukur seakan-akan Anda sudah menerima apa yang Anda inginkan, Anda memancarkan sinyal yang sangat kuat kepada Semesta.” (Hlm. 93).
Menarik bahwa tokoh-tokoh The Secret tidak pernah menyebut kata “God” atau “Allah”. Ucapan syukur mereka diarahkan kepada Semesta, bukan sebagai suatu Pribadi, melainkan alam semesta yang tidak punya akal budi dan kehendak sendiri. Karena tidak mempunyai rencana dan kehendak sendiri, alam semesta tidak bisa punya kuasa apa pun. Ia seumpama spons yang menyerap apa pun yang dipancarkan oleh makhluk hidup, khususnya manusia, di dalamnya. Seperti dikatakan di atas, pikiran manusia punya daya untuk mempengaruhi alam semesta. Bahkan lebih daripada itu, alam semesta itu sepenuhnya diatur oleh pikiran manusia-manusia di dalamnya. “Anda adalah Tuan dari semesta.” (The Secret, Hlm. 52).
Semesta digambarkan oleh salah satu tokoh buku tersebut sebagai jin lampu Alladin. Ia siap melaksanakan apa pun yang diperintahkan oleh Alladin sebagai pemilik lampu. “Perintah” di sini ialah pancaran pikiran manusia ke dalam alam semesta. Apa pun yang ia pikirkan akan ditarik kepadanya. Sekali lagi, menurut The Secret, hukum ini pasti.
Dari pandangan di atas, jelas bahwa The Secret tidak ber-Tuhan, dalam arti Tuhan secara Pribadi Pencipta langit dan bumi. The Secret bersifat ateistik. Tuhan bagi DVD atau buku itu ialah manusia itu sendiri! “Anda adalah Tuan dari semesta.” Di beberapa tempat, secara eksplisit ia menyatakan manusia sebagai Pencipta. “Rahasia ini berarti bahwa kita adalah pencipta Semesta kita.” (The Secret, hlm. 133). Apa pun yang terjadi, terjadi sesuai dengan apa yang manusia pikirkan. Baik dan buruk, benar dan salah, semuanya ditentukan oleh manusia. Manusia mempertuhankan dirinya sendiri.

2. Di manakah Moralnya?
Dalam salah satu kesaksian yang ditulis dalam buku ini, dikisahkan tentang seorang produser film terkenal yang ingin memacari tiga perempuan berbeda dalam satu minggu. Ketika ia berhasil, hal tersebut dianggap sebagai suatu prestasi. Dikatakan bahwa ia berhasil karena ia memintanya. Jadi, tidak ada ukuran moral dari luar untuk setiap permintaan. Yang menentukan baik-buruk, benar-salah, ialah manusia itu sendiri.
Para tokoh dalam The Secret tidak pernah takut pada apa pun. Mereka menjadi standar moral mereka sendiri. “Apa pun yang Anda pilih adalah benar.” (The Secret, hlm. 220). Tidak ada Otoritas yang bisa menyalahkan ataupun membenarkan mereka. Mereka tidak pernah takut pada Tuhan. Mereka adalah Tuhan bagi mereka sendiri. Ini kesombongan setani!
Kesombongan besar seperti ini sedang merasuk dalam diri banyak orang zaman ini. Tanpa sadar mereka terjebak dalam jalan menuju konsekuensi terburuk yang bisa dialami manusia, yakni kebinasaan kekal. Semangat dasar The Secret tampak mengacu pada kesuksesan duniawi (material) belaka. Kehidupan setelah kematian tidak menjadi perhatian mereka.

3. Harta Duniawi vs Harta Surgawi
Pandangan The Secret jelas-jelas bertentangan dengan apa yang Gereja ajarkan tentang Allah. Dalam Kredo kita menyatakan kepercayaan kita kepada Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mereka adalah Satu Allah dalam Tiga Pribadi. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya. Manusia diciptakan oleh Dia untuk hidup abadi bersama Dia dalam Kerajaan-Nya. Sementara “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya” (1Yoh 2:17)
Sejak awal The Secret menghanyutkan manusia dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan: kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan. Namun, setelah membaca seluruh buku itu, kebahagiaan di sini hanya terbatas pada kebahagiaan yang merupakan akibat dari kesuksesan duniawi. 
Semangat duniawi ini berbeda sekali dengan apa yang Kristus ajarkan. Bagi Kristus, yang harus menjadi perhatian utama ialah harta surgawi. The Secret sebaliknya, justru mengajak manusia untuk mengarahkan seluruh pikiran dan usahanya kepada harta duniawi. Apabila diikuti, risikonya kita akan kehilangan jiwa kita dalam kebinasaan kekal. Tawaran-tawaran dalam The Secret itu sebenarnya sejalan dengan Iblis ketika ia menggoda Yesus dengan menawarkan segala kekayaan duniawi.
Para tokoh dalam The Secret menyajikan di hadapan mata kita apa yang bisa kita miliki asalkan kita mau mengikuti nasihat-nasihat mereka. Memang, dari kesaksian mereka, banyak yang mengikuti dan mereka berhasil mendapatkan apa pun yang mereka inginkan. Karena kemiripan besar ini, rasanya tidak keliru apabila saya mengatakan bahwa di balik The Secret ini berdirilah Iblis: “Anda bisa memiliki apa pun, asalkan Anda mau menyangkal Tuhan sebagai Pencipta dan Otoritas tertinggi.” Kira-kira itulah kata-kata Iblis yang ada di balik kata-kata indah dalam The Secret.
Risiko mengikuti The Secret sangatlah berat. Ujung jalan ini tidak lain ialah kebinasaan kekal. Tujuan dari The Secret ialah memperoleh kesuksesan duniawi belaka. Sebaliknya, tujuan kekristenan ialah kehidupan kekal. Sabda Tuhan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26a). Iblis tidak akan segan-segan menimbun Anda dengan segala kemuliaan duniawi jika dengan itu ia memperoleh jiwa Anda. Ia tahu betul bahwa semua harta di dunia yang fana (bisa hancur) ini tidak ada artinya dibandingkan dengan harga sebuah jiwa yang kekal.

Penutup
Biasanya orang beragama akan langsung menolak seseorang yang mengaku berasal dari gereja setan. Akan tetapi, coba hilangkan kata setan dalam setiap aspeknya. Kemudian, ubah interior desain sebuah gereja setan dan ritus-ritusnya yang menyeramkan dengan gemilang kekayaan duniawi. Penuhi ibadatnya dengan dupa yang wangi, musik yang menghanyutkan, dan kesaksian orang-orang yang menarik hati. Terakhir, selubungi doktrin utamanya dengan kata-kata yang memabukkan seperti: sukses, sehat, banyak teman, senang, kaya, dan sebagainya. Lakukan itu semua dan Anda akan menemukan ‘gereja’ New Age. Doktrin utamanya toh sama saja: manusialah penentu nasibnya sendiri (kesombongan), segala sesuatu ada untuk diriku (egoisme), dan reguklah kenikmatan dunia ini!
 
Rm Georgius Paulus; penulis tetap di situs Carmelia

 

0 komentar:

Poskan Komentar